Yogyakarta – Masifnya perkembangan teknologi modern ini memicu lahirnya ruang diskusi baru mengenai bagaimana hubungan sertifikasi kompetensi dengan teknologi AI, salah satunya pada dunia kerja. Saat ini, kemampuan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) memang menjadi salah satu keterampilan yang wajib dimiliki. Disamping mempermudah pekerjaan, AI mampu meningkatkan angka produktifitas harian pada tiap Individu. Namun, penguasaan teknis semata belum cukup tanpa adanya integritas moral yang kuat.
Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah, Dr. Filosa Gita Sukmono, S.I.Kom., M.A., merespons dinamika ini. Beliau menegaskan bahwa standardisasi melalui uji kompetensi merupakan kunci utama. Langkah ini penting untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang melek teknologi sekaligus berintegritas. Dalam Islam, bekerja merupakan bagian dari ibadah. Manusia mengemban amanah sebagai khalifah fil ard (pemimpin di muka bumi) untuk membawa kemaslahatan. Oleh karena itu, pekerja harus mengiringi pemanfaatan AI dengan tanggung jawab moral yang tinggi.
Filosa menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemampuan teknis (hard skill) dan sikap (attitude) atau akhlak profesional dalam memanfaatkan inovasi AI di tempat kerja.
“Sertifikasi menjadi alat untuk memastikan bahwa tenaga kerja bukan hanya ‘bisa memakai AI’, tetapi benar-benar kompeten, etis, aman, dan produktif. Karena hal-hal yang terkait etika dan attitude sebenarnya bisa membedakan tenaga kerja yang benar-benar kompeten secara menyeluruh, bukan hanya skill-nya saja,” ujar Filosa.

Tantangan Menyelaraskan Kompetensi dengan Kebutuhan Industri
Aspek etika, keaslian karya, dan keamanan data memegang peranan penting. Hal-hal tersebut menjadi tantangan baru dalam hubungan sertifikasi kompetensi dengan teknologi AI. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip Amanah (akuntabilitas) dan Sidiq (kejujuran) dalam koridor Islam. Tenaga kerja bersertifikat tentu memiliki nilai tawar yang lebih tinggi. Mereka terbukti mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Sebagai kepanjangan tangan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), LSP Muhammadiyah menghadapi tantangan besar. Filosa selaku Direktur LSP Muhammadiyah berkomitmen untuk terus membawa semangat Tajdid (pembaharuan) dan LSP Muhammadiyah akan membuka skema-skema baru sesuai kebutuhan riil industri. Pihaknya juga tetap menanamkan nilai-nilai Islam berkemajuan di dalamnya.
Sertifikasi Sebagai Jembatan Pendidikan dan Industri
Filosa Gita Sukmono berharap pengembangan skema ini membawa dampak positif. Langkah tersebut dapat mempersempit jarak antara lulusan lembaga pendidikan dan kualifikasi perusahaan. Bagi Muhammadiyah, menyiapkan tenaga kerja kompeten melalui Uji Kompetensi LSP Muhammadiyah adalah wujud nyata dakwah bil hal. Ini merupakan dakwah nyata melalui kontribusi profesional di masyarakat. Beliau menutup keterangannya dengan mempertegas esensi utama materi ini. Pemahaman yang kuat tentang hubungan sertifikasi kompetensi dengan teknologi AI akan menjadi standar mutu tenaga kerja masa depan.
“Dengan begitu, sertifikasi kompetensi menjadi jembatan antara pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan industri. Bukan sekadar ‘sertifikat’, melainkan bukti bahwa tenaga kerja Indonesia siap memasuki dunia kerja yang semakin digital, cerdas, dan berbasis kolaborasi antara manusia dan AI,” pungkasnya.
Melalui langkah adaptif ini, LSP Muhammadiyah berkomitmen mendongkrak daya saing SDM nasional. Angkatan kerja Indonesia tidak boleh menjadi pengguna pasif teknologi. Mereka harus menjadi profesional muslim yang unggul, berakhlak mulia, dan produktif demi kemajuan industri Tanah Air. (LSP Muhammadiyah)